Juga Ada Penampilan Tarian Pattannung Nakku
BULUKUMBA,infotanews.id – Desa Bira, Kecamatan Bontobahari di percaya menjadi lokasi kegiatan Anyorong Lopi (Peluncuran Perahu Pinisi) dalam rangka Festival Pinisi ke-XVI 2026, tanggal 15 Oktober 2026.
Hal ini terungkap dalam rapat pemantapan Festival Pinisi XVI di Cafe & Resto Grand 99, Selasa (6/10/2026) yang di hadiri Kepala Disparpora Bulukumba Hj. Hamrina Andi Muri, S.Pd, M.Si, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Bulukumba, Camat, Lurah, Kepala Desa, EO, Media, LSM.
Kepala Desa (Kades) Bira, Murlawa, S.E menyampaikan rasa bangganya atas di pilihnya kegiatan Anyorong Lopi di pusatkan di Pantai Panrang Luhu. Ia juga berterimakasih kepada pemerintah daerah dan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Bulukumba telah menunjuk Desa Bira sebagai lokasi Anyorong Lopi.
“Tentunya sebagai pemerintah desa, dengan ditempatkannya Anyorong Lopi di Pantai Panrang Luhu, maka insya Allah kami akan memberikan sebuah dukungan yang maksimal mulai dari kenyamanan pengunjung hingga jalan masuk kawasan Pantai Panrang Luhu kita akan membantu supaya kegiatan ini berjalan lancar,” ungkapnya.
Annyorong Lopi adalah tradisi peluncuran perahu Pinisi secara gotong royong menggunakan tenaga manusia yang berasal dari masyarakat Suku Bugis di Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
“Makna dan tujuan Anyorong Lopi, sebagai wujud syukur dan bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan karena pembuatan perahu Pinisi telah selesai, Ritual Songka Bala untuk mendoakan keselamatan serta rezeki yang melimpah bagi perahu yang akan berlayar, serta kebersamaan menunjukkan nilai gotong royong dan kerja sama yang erat antarwarga,” jelasnya.
Kades Bira juga akan menampilkan tarian Pattannung Nakku yang berbeda dengan tarian lain, tarian ini bagian darii akar budaya Desa Bira yang harus di lestarikan.
Tarian ini mengangkat kisah seorang istri yang setia menanti kepulangan suaminya yang pergi berlayar mengarungi lautan.
Dalam kesunyian rumah, ia mengisi hari-harinya dengan bertenun, setiap helai benang yang dirajut menjadi simbol harapan, doa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Gerakan tari menggambarkan alunan perasaan yang lembut namun kuat mulai dari kerinduan yang mendalam, kegelisahan akan keselamatan sang suami, hingga keteguhan hati untuk tetap setia.
Seiring waktu berlalu, ritme gerak mengekspresikan pergulatan batin antara harap dan cemas. Tenunan yang dihasilkan bukan sekadar kain, melainkan lambang kesabaran dan kesetiaan yang terjalin indah. Puncak tarian menghadirkan momen penuh haru saat sang istri merasakan kehadiran harapan baik dalam bayangan maupun kenyataan tentang kepulangan suaminya.
Melalui perpaduan gerak yang halus, ekspresi yang mendalam, dan simbolisme tenun, tarian ini menyampaikan pesan tentang cinta yang setia, ketabahan seorang perempuan, serta kekuatan menunggu dengan penuh keyakinan.
Kepala Disparpora Bulukumba, Hj. Hamrina Andi Muri dalam setiap kesempatan selalu menekankan bahwa Festival Pinisi adalah milik masyarakat Bulukumba. Ia juga selalu mengajak seluruh elemen masyarakat Bulukumba untuk bersama-sama mensukseskan kegiatan ini. (*)








Komentar