MAKASSAR,infotanews.id – Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Bulukumba bergerak cepat dalam memperluas jejaring promosi pariwisata internasional. Langkah ini diwujudkan melalui agenda audiensi resmi dengan Konsulat Jenderal Australia guna mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bumi Panritalopi.
Pertemuan ini berlangsung di Kantor Konsulat Jenderal Australia, Wisma Kalla Lantai 7, Jalan dr. Sam Ratulangi No. 8, Kota Makassar, pada Kamis (9/7/2026). Kunjungan delegasi Pemerintah Kabupaten Bulukumba tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Disparpora Bulukumba, Hj. Hamrina Andi Muri, S.Pd., M.Si.
Turut mendampingi Kepala Dinas dalam rombongan, antara lain Plt. Sekretaris Disparpora Andi Tenri Rawe, S.STP., MM; Kepala Bidang Pemasaran Pengembangan Sumber Daya Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Muh. Taufik Rachman, S.E., M.M; Kasubag Program dan Pelaporan, Hafsah, S.P., M.M; serta Pejabat Fungsional Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Idiawaty, S.S., M.M dan Andi Tenri Sanna, S.T. dan beberapa staf.
Kehadiran jajaran Disparpora Bulukumba disambut hangat dan diterima langsung oleh jajaran tinggi perwakilan diplomatik Australia untuk wilayah Indonesia bagian timur, yaitu Todd Dias selaku Konsul-Jenderal Australia di Makassar, Isaac Bennett selaku Konsul, serta Andi Lulu Purnamasari yang menjabat sebagai Manajer Riset dan Hubungan Publik.
Dalam pengantarnya, Kepala Disparpora Bulukumba, Hj. Hamrina Andi Muri, menyampaikan bahwa maksud kunjungan ini ialah membangun sinergi komprehensif dalam mengenalkan destinasi unggulan Bulukumba ke pasar Australia. Upaya ini merujuk pada indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Bulukumba yang menargetkan lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
“Kami sangat membutuhkan kerja sama dan dukungan dari Konsulat Jenderal Australia untuk memperluas promosi ini. Kami berharap bisa mendapatkan masukan, saran, serta bantuan konkret agar Kabupaten Bulukumba semakin diminati dan menjadi pilihan utama bagi turis mancanegara di masa depan,” ujar Hamrina.
Lebih lanjut, Hamrina juga memperkenalkan ajang pariwisata tahunan andalan daerah, yakni Festival Pinisi, yang dijadwalkan berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 mendatang. Festival ini dirancang untuk merayakan sekaligus melestarikan budaya maritim di tanah kelahiran perahu legendaris dunia tersebut. Rangkaian kegiatan utama (main event) yang dipromosikan mencakup ritual adat sakral seperti Songkabala Ri Bantilang, Ammossi, dan Annyorong Lopi di Kecamatan Bonto Bahari, hingga ritual Andingingi (mendinginkan bumi) di Kawasan Adat Ammatoa Kajang.
Merespons paparan tersebut, Konsul-Jenderal Australia Todd Dias memberikan apresiasi tinggi sekaligus membagikan sejumlah saran taktis agar pariwisata Bulukumba bisa memikat hati warga Australia. Mengingat ada sekitar 1,7 juta warga Australia yang berkunjung ke Indonesia setiap tahunnya—namun 1,5 juta di antaranya masih terpusat di Bali.
Todd Dias merinci lima poin strategi promosi, yaitu:
Digitalisasi & Kemitraan Konten Global: Memasukkan informasi detail mengenai destinasi Tanjung Bira dan Festival Pinisi ke situs perjalanan terkemuka seperti Intrepid Travel pada laman khusus Indonesia, dengan memperjelas deskripsi acara, tanggal pelaksanaan, serta daya tarik keunikannya.
Promosi Maskapai Penerbangan: Memanfaatkan media promosi (seperti in-flight magazine) pada maskapai penerbangan ternama termasuk Garuda Indonesia dan penerbangan besar lainnya untuk menarik minat turis Australia bergeser ke Sulawesi Selatan.
Amplifikasi Media dan Influencer Internasional: Mengundang influencer, penulis, dan wartawan asing untuk hadir langsung di Festival Pinisi. Todd menyarankan untuk menunjuk atau menyewa tim khusus yang bertugas memastikan publikasi berbahasa Inggris kaya visual berhasil menembus media cetak maupun digital internasional.
Optimalisasi Jaringan Pendidikan: Melibatkan sekolah-sekolah yang bermitra dalam Program Kemitraan Sekolah BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) binaan Konjen Australia untuk membangun interaksi kebudayaan.
Sinergi Antar-daerah: Membangun kerja sama promosi silang (cross-promotion) dengan provinsi atau daerah lain di Indonesia demi saling mendukung sektor pariwisata regional.
Todd Dias juga menekankan pentingnya menyediakan seluruh materi promosi dalam bahasa Inggris, menyusun paket wisata yang jelas dan terstruktur, serta melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu, terutama saat turis mengunjungi destinasi sensitif seperti Kawasan Adat Ammatoa Kajang.
Senada dengan hal itu, Konsul Isaac Bennett menambahkan bahwa Disparpora perlu memperkuat kemitraan dengan asosiasi pemandu wisata (tour guide). Promosi intensif kepada para pemandu dinilai sangat efektif karena mereka memiliki pengaruh besar dalam mengarahkan rute perjalanan wisatawan ke Bulukumba.
Sementara itu, Manajer Riset dan Hubungan Publik, Andi Lulu Purnamasari, menyarankan langkah taktis di sektor akomodasi dan akademis. “Sebaiknya dijalin kerja sama dengan jaringan hotel untuk penyebaran brosur promosi pariwisata Bulukumba. Selain itu, kolaborasi dengan kampus-kampus besar seperti Universitas Hasanuddin (Unhas) perlu dilakukan agar program kunjungan lapangan, riset, maupun kegiatan kemahasiswaan dapat diarahkan ke Bulukumba,” urainya.
Menanggapi poin pelibatan masyarakat lokal di area adat, fungsional Adyatama Pariwisata Disparpora Bulukumba, Idiawaty, mengonfirmasi bahwa selama ini wisatawan yang berkunjung ke kawasan Ammatoa Kajang memang selalu didampingi dan dilayani oleh pemandu lokal demi menjaga kelestarian adat setempat.
Pertemuan audiensi yang berlangsung produktif dan penuh keakraban tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti peluang kerja sama, dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi antara Pemkab Bulukumba dan Konsulat Jenderal Australia. (*)












Komentar