Pembangunan Proyek Pagar Pasar Sentral Terkena Imbas Tempat Usaha Warga, Pimpinan dan Anggota DPRD Langsung Tinjau Lokasi

BULUKUMBA,infotanews.id – Pembangunan proyek pagar samping Pasar Sentral Bulukumba di protes sejumlah pedagang yang berjualan ditempat itu. Hal tersebut lantaran sejumlah tempat di lokasi itu bakal terkena imbas pemagaran oleh pihak kontraktor sehingga mereka terancam bakal kehilangan mata pencaharian.

Informasi yang dihimpun sebanyak 6 pedagang sudah melayangkan surat aduan ke DPRD. Aduan tersebut langsung di tindaklanjuti Pimpinan dan Anggota DPRD Bulukumba dan telah melakukan peninjauan terhadap pembangunan proyek sebesar Rp1,9 miliar lebih, Kamis (13/11/2025).

Dari hasil peninjauan tersebut, Wakil Ketua DPRD Syahruni Haris, Anggota DPRD H. Andi Pangerang Hakim, Ismail Papo, Rizal Sarib, Dr. Supriadi, Elfhi Wahyudi Masri, sepakat dan meminta kepada pemerintah daerah untuk mempertimbangkan kembali pembangunan pagar tersebut khususnya yang terdampak pemagaran.

Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, menjelaskan terkait adanya proyek yang berimbas pada pemagaran di depan toko atau rumah warga di Pasar Sentral, menurutnya proyek tersebut adalah Anggaran APBD Perubahan 2025. Tapi kondisi di lapangan ada masyarakat yang protes dan merasa terganggu dengan kegiatan usahanya atas rencana pemagaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan.

“Nah inilah kita mau lihat faktanya bagaimana, kalau kita sudah lihat faktanya seperti ini itu kan bisa kita bicarakan secara bersama di DPRD, karena ini sudah menjadi laporan dari masyarakat. Kami nanti akan undang Dinas Perdagangan bersama dengan penanggungjawab teknisnya untuk membicarakan bagaimana solusi tentu juga kita akan mendiskusikan mencari jalan tengah kepada Bupati bagaimana solusi terbaik,” ungkap Syahruni.

Legislator Partai Gerindra ini berharap agar ada solusi dan alternatif yang harus di tawarkan ke Pemerintah Daerah untuk menyatukan pendapat agar masyarakat bisa tenang dan mencari nafkah. Pemerintah harus melihat ini sebagai suatu problematika di masyarakat yang harus di carikan solusi.

“Sebagai wakil rakyat tentu kami akan mencarikan solusi, bagaimana warga sekitar bisa berjualan kembali dengan baik seperti biasa. Dalam waktu dekat kami akan panggil Dinas Perdagangan, Penanggungjawab Teknis, dan Pedagang untuk melakukan RDP,” jelas Syahruni.

Anggota DPRD Bulukumba, Rizal Sarib menambahkan, bahwa terkait pekerjaan proyek pagar Pasar Sentral tersebut awalnya beredar viral di media sosial. Mengetahui hal itu Pimpian dan Anggota DPRD Bulukumba langsung melakukan peninjauan ke Pasar Sentral.

“Ini adalah kepentingan masyarakat yang  mau dipagar dia punya tempat usaha kasihan. Ini secara kemanusiaan dan harus kita pertimbangkan kembali, kenapa karena ini adalah bagian dari pendapatan warga yang penghasilannya berdagang untuk hidup. Ada juga penjual nasi kuning ini kasihan mereka dia hidupnya sudah pas-pasan mau ditutup lagi, otomatis kalau ditutup perputaran ekonominya pasti apa dia mau makan,” ungkap Rizal.

Solusinya, pimpinan dan anggota DPRD Bulukumba akan koordinasikan ke Bupati, agar dipertimbangkan kembali persoalan pekerjaan pagar ini. DPRD akan memfasilitasi untuk ketemu dengan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perdagangan atau kita adakan RDP.

Dinas Perdagangan, Omy tidak terlalu banyak berkomentar terkait aksi protes tersebut, pihaknya hanya menjalankan tugas dari pimpinan. Namun menurutnya proyek pagar Pasar Sentral tersebut sebagai upaya menertibkan aset Pemda dan menutup kebocoran retribusi.

Salah satu pedagang, Hj. Hasna, mengaku kaget dan sesak napas melihat pasangan batu persis depan tokonya. Awalnya ia mengira bahwa tempat usahanya tidak sampai terdampak pemagaran, namun saat di lakukan penggalian pondasi dia kebingungan dan menangis melihat tempat usahanya akan hilang akibat terkena proyek pagar samping Pasar Sentral.

“Saya sudah puluhan tahun di sini berjualan, saya taat bayar retribusi, pajak, surat izin lengkap semua. Saya tidak pernah bermasalah dengan pemerintah. Saya mohon pemerintah kasihan jangan pagar depan tempat usaha saya, saya tidak ingin kehilangan mata pencaharian kalau di Pagari juga depan toko ku. Mohon bantuan ta kodong,” ungkap Hj. Hasna dengan nada sedih dan menangis depan Pimpinan dan Anggota DPRD. (*)

Komentar